Minggu, 05 Maret 2017

Nasehat Imam Al Junaid atau Abu Al Qosim



Nasehat Imam Al Junaid atau Abu Al Qosim

Assalamu'alaikum wbr. Sahabatku saudara/riku yang di muliakan Allah ....

Imam Al Junaidi atau Abu Al Qosim berkata :
" Diantara ciri ciri berpalingnya Allah dari hamba-Nya , adalah Allah menyibukkan hamba 
tersebut dengan hal-hal yang sia-sia."

Abu Al Qosim berkata :
" Berhati hatilah ketika pujian untuk dirimu itu tersebar dan kejelekanmu tertutupi."

Abu Al Qosim berkata :
"Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, tidak ada yang mengetahuinya hingga malaikat mencatatnya, tidak juga syetan hingga merusak keikhlasannya, dan tidak juga hawa nafsu 
membelokkannya."

Wasallamu'alaikum wbr.

KEKASIH



KEKASIH

Assalamu'alaikum wbr.  Sahabatku ihwatan Iman Islam  yang di cintai Allah,


Ketika Malaikat Maut mendatanginya, demikian dikisahkan Hujjatul Islam Al Ghazaly 
dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, Ibrahim ‘Alaihissalam bertanya,
 “Tanyakan pada Rabb kita ‘Azza wa Jalla, adakah Kekasih yang tega mencabut 
nyawa kekasihNya?”
Maka Malaikat Maut memghadap Allah dan Diapun berfirman, 
“Katakan pada Ibrahim: Adakah kekasih yang tak ingin berjumpa dengan Kekasihnya?”
Ketika hal itu disampaikan kepada Ibrahim ‘Alaihissalam, maka berkatalah beliau, 
“Ambillah nyawaku sekarang juga!”
Seorang tokoh yang agaknya berlebihan dalam mengkhawatirkan kebablasannya kaum 
muslimin dalam memuliakan Nabi pernah mengatakan, 
“Sesungguhnya ziarah ke kubur Nabi tidak termasuk rukun, wajib, ataupun sunnah haji. 
Saya pernah 12 tahun tinggal di Madinah, dan tak sekalipun melakukan ziarah.”
“Aduhai”, tanggap seorang ‘Alim dari Jawa, “Itu bukan dia yang tak mau ziarah. Adalah Nabi yang tak ingin diziarahi olehnya. Memang ziarah ini bukan termasuk sunnah haji, wajib haji, ataupun rukun haji. Tapi ia adalah rukun cinta, wajib cinta, dan sunnah cinta. Mana ada pencinta yang tak ingin mengunjungi yang dicintainya?”

من زارني بعد مماتي فكأنما زارني في حياتي

“Siapa yang menziarahiku sesudah kematianku, maka seakan dia mengunjungiku di kala hidupku.” 
(HR Ad Daruquthny)

Karena cinta, insan melakukan tindakan-tindakan luar biasa. Ya, bukti utama cinta adalah ittiba’ padanya, mengikuti sunnahnya. Tapi lebih dari itu pula, hati takkan dapat dicegah untuk merindu, bersyahdu, berdekat-dekat, menghormat, dan berkorban baginya.
Seperti Mu’adz ibn Jabal radhiyallohu ‘anhu yang tak dicegah ‘Umar untuk menangis di sisi kubur Rasulullah , seperti Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu ‘anhu yang menempelkan kepalanya di sana semalaman dan seperti Sultan ‘Abdul Hamid II hafidhahulloh dari Daulah ‘Utsmaniyah yang dicatat dalam sejarah melakukan hal yang mengesankan.
Beliau memerintahkan agar rel kereta api Hijaz dalam jarak 20 KM dari Madinah kesemuanya diberi bantalan kapas tebal. Agar apa? Supaya getaran dan suara derunya tak mengganggu Sang Kekasih .

Oleh: Ust Salim A. Fillah
wasallamu'alaikum wbr.


MALU



MALU

"Jika Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu"
Dari Abu Mas'ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri Radhiyallahu'anhu Berkata:
Rasullulah Shallahu'alaihi Wasallam Bersabda, Sesungguhnya Salah Satu Perkara yang
telah Di Ketahui Oleh Manusia Dari Kalimat Kenabian Terdahulu Adalah,
 "Jika Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu."

Ust. Oemar Mita. Lc

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH



ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH

Assalamu'alaikum wbr. Sahabat, saudara/ri ku , ihwatan Iman yang di rahmati Allah SWT, Insya Allah kita semua diberikan nikmat sehat dan waktu luang , nikmat yang lain yang tak mungkin kita menghitung satu satu...
1. Hadits ke 1
Dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma , ia mengatakan bahwa Baginda Rosulullah SAw bersabda , " Barangsiapa mendengar adzan dan tidak memenuhinya tanpa udzur , maka shalat yang dikerjakannya tidak akan diterima."
Para sahabat R.A bertanya ," Apa udzurnya? "
Beliau menjawab," Takut atau sakit".
( HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah, dari kitab At Targhib)
Maksud " tidak akan diterima shalatnya" ialah ia tidak mendapat pahala dan anugerah dari shalatnya, meskipun kewajiban yang tertunaikan. Inilah makna hadits-hadits yang lafadznya laa shalata yang artinya tidak ada shalat. Sebab keutamaan shalat yang seharusnya ada, yaitu sebagai penyebab pahala dan anugerah, tidak terdapat dalam shalatnya.
Inilah pendapat Abu Hanifah Rahmatullah 'alaih .
Sedangkan pendapat sebagian sahabat Radiyallahu'anhum dan sebagian tabi'in Rahmatullah 'alaihim , berdasar hadits hadits ini , berpendapan bahwa meninggalkan shalat berjamah tanpa udzur itu haram, dan shalat berjamaah itu fardu, sehingga banyak ulama yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat berjmaah tidak sa shalatnya.
Sedangkan dalam madzab Hanafi walaupun shalatnya sah, tetapi mereka berdosa karena meninggalkan perintah berjamaah.
Sayyidina Ibnu Abbas Radiyallahu'anhuma meriwayatkan sebuah hadits bahwa ia berdosa karena mengingkari Allah Subhanallahu wata'ala dan rosul Nya .
Ia berkata," Barang siapa mendengar adzan , lalu ia tidak shalat berjamaah , berarti ia tidak menghendaki kebaikan dan tidak dikehendaki mendapat kebaikan."
Sayyidina Abu Hurairah radiyallahu 'anhu berkata , " Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak shalat berjamaah , maka lebih baik dituangkan timah mendidih kelubang telinganya."



ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH SELEPAS MENDENGAR ADZAN.

HADITS KE 2.
Dari Sayyidina Mu'adz bin Anas Radiyallahu'anhu , Baginda rosulullah SAW bersabda ," Benar benar keras kepala , kufur dan nifak , orang yang mendengar seruan muadzin untuk shalat , tetapi ia tidak memenuhinya ."
( HR. Ahmad , Thabrani , dari kitab at-Targhib)
Faedah
Sungguh keras ancaman dan celaan dalam hadits ini , sehingga perbuatan itu digolongkan perbuatan orang kafir dan munafik. Seolah olah hal itu tidak mungkin terjadi pad seorang muslim.
Dinyatakan dalam hadits lain ," Cukuplah keburukan dan kerugian seseorang jika ia mendengar adzan tetapi tidak memenuhinya."
Sayyidina Sulaiman bin Abi Hatsmah Radiyallahu'anhu , adalah seorang sahbat yang punya kedudukan yang tinggi . ialahir pada zaman Baginda Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, karena masih kecil sehingga belum bisa meriwayatkan hadits hadits yang didengar dari Baginda Rosulullah.
Pada zaman khalifah Umar Radiyallahu'anh , ia ditugasi mengawasi pasar. Suatu hari Sayyidina Umar Radiyyallahu'anhu tidak menjumpai dalam shalat berjamaah shubuh. Lalu sayyidina Umar r.a pergi kerumahnya dan bertanya kepada ibunya ," Mengapa Sulaiman tidak datang shalat shubuh berjamaah hari ini?"
Ibunya menjawab,"Ia shalat semalam sunah suntuk ( kemudian ia shalat shubuh dirumah), karena mengantuk ia terus tidur."
Sayyidina Umar Radiyallahu'anhu berkata," Aku lebih menyukai shalat shubuh berjamaah daripada shalat sunnah semalam suntuk."
Wasalam, semoga bermanfaat.