Kamis, 20 April 2017

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH



ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH

Assalamu'alaikum wbr. Sahabat, saudara/ri ku , ihwatan Iman yang di rahmati Allah SWT, Insya Allah kita semua diberikan nikmat sehat dan waktu luang , nikmat yang lain yang tak mungkin kita menghitung satu satu...

1. Hadits ke 1

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma , ia mengatakan bahwa Baginda Rosulullah SAw bersabda , " Barangsiapa mendengar adzan dan tidak memenuhinya tanpa udzur , maka shalat yang dikerjakannya tidak akan diterima."
Para sahabat R.A bertanya ," Apa udzurnya? "
Beliau menjawab," Takut atau sakit".
( HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah, dari kitab At Targhib)
Maksud " tidak akan diterima shalatnya" ialah ia tidak mendapat pahala dan anugerah dari shalatnya, meskipun kewajiban yang tertunaikan. Inilah makna hadits-hadits yang lafadznya laa shalata yang artinya tidak ada shalat. Sebab keutamaan shalat yang seharusnya ada, yaitu sebagai penyebab pahala dan anugerah, tidak terdapat dalam shalatnya.
Inilah pendapat Abu Hanifah Rahmatullah 'alaih .
Sedangkan pendapat sebagian sahabat Radiyallahu'anhum dan sebagian tabi'in Rahmatullah 'alaihim , berdasar hadits hadits ini , berpendapat bahwa meninggalkan shalat berjamah tanpa udzur itu haram, dan shalat berjamaah itu fardu, sehingga banyak ulama yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat berjmaah tidak sa shalatnya.
Sedangkan dalam madzab Hanafi walaupun shalatnya sah, tetapi mereka berdosa karena meninggalkan perintah berjamaah.
 Ibnu Abbas Radiyallahu'anhuma meriwayatkan sebuah hadits bahwa ia berdosa karena mengingkari Allah Subhanallahu wata'ala dan rosul Nya .
Ia berkata," Barang siapa mendengar adzan , lalu ia tidak shalat berjamaah , berarti ia tidak menghendaki kebaikan dan tidak dikehendaki mendapat kebaikan."
 Abu Hurairah radiyallahu 'anhu berkata , " Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak shalat berjamaah , maka lebih baik dituangkan timah mendidih kelubang telinganya."


ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH SELEPAS MENDENGAR ADZAN.


HADITS KE 2.

Dari  Mu'adz bin Anas Radiyallahu'anhu , Baginda rosulullah SAW bersabda ," Benar benar keras kepala , kufur dan nifak , orang yang mendengar seruan muadzin untuk shalat , tetapi ia tidak memenuhinya ."
( HR. Ahmad , Thabrani , dari kitab at-Targhib)
Faedah
Sungguh keras ancaman dan celaan dalam hadits ini , sehingga perbuatan itu digolongkan perbuatan orang kafir dan munafik. Seolah olah hal itu tidak mungkin terjadi pad seorang muslim.
Dinyatakan dalam hadits lain ," Cukuplah keburukan dan kerugian seseorang jika ia mendengar adzan tetapi tidak memenuhinya."
Sayyidina Sulaiman bin Abi Hatsmah Radiyallahu'anhu , adalah seorang sahbat yang punya kedudukan yang tinggi . ialahir pada zaman Baginda Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, karena masih kecil sehingga belum bisa meriwayatkan hadits hadits yang didengar dari Baginda Rosulullah.
Pada zaman khalifah Umar Radiyallahu'anh , ia ditugasi mengawasi pasar. Suatu hari  Umar Radiyyallahu'anhu tidak menjumpai dalam shalat berjamaah shubuh. Lalu  Umar r.a pergi kerumahnya dan bertanya kepada ibunya ," Mengapa Sulaiman tidak datang shalat shubuh berjamaah hari ini?"
Ibunya menjawab,"Ia shalat semalam sunah suntuk ( kemudian ia shalat shubuh dirumah), karena mengantuk ia terus tidur."
Umar Radiyallahu'anhu berkata," Aku lebih menyukai shalat shubuh berjamaah daripada shalat sunnah semalam suntuk."


HADITS KE 3

Dari  Abu Hurairah Radiyallahu'anhu, Baginda Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sunggguh aku ingin menyuruh pemuda pemuda agar mengumpulkan beberapa ikat kayu bakar untukku , lalu kudatangi orang- orang yang shalat dirumah mereka tanpa udzur, dan ku bakar rumah rumah mereka sedangkan mereka didalamnya."
( HR. Muslim , Abu Daud , Ibnu Majah, At- Tirmidzi dari kitab at Targhib)
Faedahnya....
Baginda Rosulullah shallallahu'alaihi wasallam amat menyayangi umatnya sehingga beliau tidak tega melihat umatnya ditimpa kesulitan sekecil apapun . Namun demikian , betapa marahnya Beliau kepada mereka yang mengerjakan shalat fardhu dirumah tanpa udzur, sampai beliau menyatakan berkeinginan membakar rumah mereka( sebagai ancaman.
HADITS KE 4
Dari Abu Darda ' radiyallahu'anhu , ia berkata ,
" Aku mendengar Baginda Rosulullah Shallalllahu'alaihi wasallam bersabda,
" Tidak ada tiga orang yang tinggal disebuah kampung atau disuatu padang sahara dan mereka tidak mengadakan shalat berjamaah , kecuali setan akan menguasai mereka. Jika ia sendirian , setan akan memangsanya."
( HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i , Ibnu Khuzaimah dan ibnu Hibban )
Hdits tersebut menjelaskan bahwa walaupun hanya tiga orang yang sibuk bekerja disuatu kebun , hendaknya mereka tetap mendirikan shalat berjamaah. Bahkan walau hanya dua orang , shalat berjamaah lebih baik bagi mereka. Pada umumnya para petani meninggalkan shalat berjamaah dengan alasan sibuk bertani, dan mereka yang merasa mengerti agama pun shalat sendirian. padahal para pertani tersebut berkumpul di suatu tempat , mereka tentu bisa melaksanakan shalat berjamaah besar dan menghasilkan pahala yang besar pula. Untuk mendapatkan sedikit uang saja mereka mau bersusah payah , tanpa peduli hujan , panas, petir , dingin dan lain lain  tetapi sayang mereka menyia-nyiakan pahala besar tanpa merasa rugi sedikit pun.Jika mereka shalat di padang maka pahalnya akan lebih besar. Dinyatakan dalam sebuah hadits pahalanya mencapai lima puluh
shalat.Dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa seorang pengembala baik diatas gunung maupun ditengah padang yang mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat , Allah subhana wa ta'ala sangat menyukainya dan Allah subhana wata'ala bangga kepada mereka dihadapan para malaikat ,
" Lihatlah hamba-Ku yang mendirikan adzan , lalu ia mendirikan shalat . Ini semua karena rasa takutnya kepada-Ku.Sungguh , aku telah mengampuninya dan Aku memutuskan untuk memasukkannya ke dalam surga."
(dari Kitab Al misykat)

KEPENTINGAN SHALAT FARDHU DIBANDINGKAN DENGAN SHALAT SUNNAH
HADITS KE 5

Dari  Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma , sesungguhnya ia ditanya tentang seseorang yang berpuasa siang hari , berdiri(shalat) malam hari , tetapi tidak menghadiri shalat berjamaah dan tidak menyertai shalat Jum'at , maka  Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma menjawab ,
 " Ia berada di neraka." 

( HR. Tirmidzi, dari kitab At Targhib)

Faedah

Seorang muslim yang disiksa di neraka , suatu ketika akan dikeluarkan (juga) dari neraka, tetapi tidak diketahui berapa lama ia akan berada dalam neraka.
Sebagian sufi yang jahil hanya mementingkan dzikir dan shalat sunnah tanpa mempedulikan shalat berjamaah dan menyangka dirinya orang yang shalih. Padahal kesempurnaan ke shalih an adalah dengan mengikuti Baginda Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam . Sebuah hadits menyebutkan bahwa ada tiga orang yang dilaknat Allah subhanallahu wata'ala, yaitu imam yang dibenci makmumnya( dengan alasan masuk akal) , wanita yang suaminya tidak ridho kepadanya , dan orang yang mendengar adzan namun tidak pergi shalat berjamaah.

HADITS KE 6

Ibnu Mardawaih Rahmatullah'alaih telah meriwayatkan dari Ka'ab Al Hibr Rahmatullah'alaih , Ia berkata ," Demi dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa Alaihis sallam , injil kepada Nabi Isa Alaihis sallam , Zabur kepada Nabi Dawud Alaihis salam , dan Al Qur'an kepad Baginda Muhammad Rosulullah shallallahi wasallam , ayat ayat ini diturunkan mengenai nasib buruk pada hari kiamat yang akan menimpa orang orang yang tidak shalat berjamaah di tempat adzan dikumandangkan. (Arti ayatnya adalah): " pada hari ketika betis disingkapkan , dan mereka dipanggil untuk sujud tetapi mereka tidak mampu sujud , pandangan mereka tunduk ke bawah karena malu, mereka diselubungi kehinaan , dan sungguh semasa di dunia mereka diseru untuk sujud sedangkan mereka ketika itu dalam keadaan sehat wal afiat ( tetapi mereka enggan bersujud)."

QS al Qolam : 42-43 (HR. Baihaqi dari kitab Durrul Mantsur )

Faedah 

Makna 'hari betis disingkapkan' adalah tajallinya Allah yaitu Allah subhana wata'ala menampakkan ke agungan Nya di padang mahsyar, sehingga seluruh kaum muslimin akan bersujud melihatnya , tetapi sebagian mereka ada punggungnya mengeras , sehingga tidak bisa sujud. Siapakah mereka ? Banyak penafsiran dari para ahli tafsir tentang hal ini .

Pertama.

Ka'ab Al Kibr Rahmatullah 'alaih ,  Ibnu Abbas Radiyallahu'anhuma, dan yang lain menfsirkan bahwa mereka orang yang diseru untuk shalat berjamaah tetapi tidak memenuhinya

Kedua

Dalam kita Bukhari , Abu Sa'idAl Khudri Radhiyallahu'anhuma berkata ," Aku mendengar Baginda Muhammad shallallahu'alaihi wasallam bersabda:" Mereka adalah orang yang ketika di dunia shalat dengan riya dan ingin dilihat oleh orang lain."

Ketiga

Menyatakan mereka adalah kaum munafik . Hanya allah subhana wata'ala yang maha tahu dan yang maha sempurna ilmu Nya. 

Keempat

Menyatakan bahwa mereka adalah orang orang kafir yang ketika didunia benar benar tidak pernah shalat.
Penafsiran  Ibnu Abbas radiyallahu'anhuma sebagai Imam para mufassir , menjelaskan betapa dasyatnya huru hara di padang mahsyar, sehingga seluruh kaum muslimin sibuk bersujud . tetapi orang orang yang tidak shalat berjamaah , dengan penuh hina tidak dapat bersujud . Masih banyak ancaman yang lain bagi orang yang tidak mau shalat berjamaah.
Mari bersemangat shalat berjamaah.... Bagi Muslim di masjid atau mushalla dan muslimat yang lebih afdolf di rumah masing masing.

Semoga bermanfaat. Wassalam...

Al Jabar



Al Jabar

Jangan belajar Aljabar karena Aljabar itu dari kata Arab Al-Jabru wal Muqobalatu karya Al-Khowarizmy; jangan belajar Kimia karena kimia itu dari kata Al-Kimya karya Jabir ibnu Hayyan.

Jangan naik pesawat terbang karena penemu teknologi penerbangan adalah Abbas Ibn Firnas jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat pada tahun 1903.
Ohya jangan belajar kedokteran karena Ilmu Kedokteran ditemukan oleh Ibnu Sina, dengan maha karyanya Al-Qonun Fith Thib.

Sujud tilawah .



Sujud tilawah . 

Apakah didalam sholat subuh kita membaca surat sadjadah kita di wajibkan untuk sujud..?
Syukron.                       
Dianjurkan bagi orang yang membaca ayat sajadah dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah agar melakukan sujud tilawah. Inilah pendapat mayoritas ulama. Hal ini dianjurkan pada shalat jama’ah atau sendirian dan shalat siriyah (shalat dengan suara lirih seperti pada shalat zhuhur dan ashar) atau shalat jariyah (shalat dengan suara keras seperti pada shalat maghrib dan isya).
عَنْ أَبِى رَافِعٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَبِى هُرَيْرَةَ الْعَتَمَةَ فَقَرَأَ ( إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ ) فَسَجَدَ فَقُلْتُ مَا هَذِهِ قَالَ سَجَدْتُ بِهَا خَلْفَ أَبِى الْقَاسِمِصلى الله عليه وسلمفَلاَ أَزَالُ أَسْجُدُ بِهَا حَتَّى أَلْقَاهُ
Dari Abu Rofi’, dia berkata bahwa dia shalat Isya’ (shalat ‘atamah) bersama Abu Hurairah, lalu beliau membaca “idzas samaa’unsyaqqot”, kemudian beliau sujud. Lalu Abu Rofi’ bertanya pada Abu Hurairah, “Apa ini?” Abu Hurairah pun menjawab, “Aku bersujud di belakang Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ketika sampai pada ayat sajadah dalam surat tersebut.” Abu Rofi’ mengatakan, “Aku tidaklah pernah bersujud ketika membaca surat tersebut sampai aku menemukannya saat ini.” (HR. Bukhari no. 768 dan Muslim no. 578)
Namun bagaimana jika shalatnya adalah shalat siriyah semacam shalat zhuhur dan shalat ashar? Pada shalat tersebut, makmum tidak mendengar kalau imam membaca ayat sajadah.
Sebagian ulama Hanabilah mengatakan bahwa imam terlarang untuk membaca ayat sajadah dalam shalat yang tidak dijaherkan suaranya (dikeraskan suaranya). Jika imam tersebut tetap membaca  ayat sajadah dalam shalat semacam itu,  maka tidak perlu ada sujud. Pendapat ini juga adalah pendapat Imam Abu Hanifah. Alasan dari pendapat ini adalah agar tidak membuat kebingungan pada makmum.
Namun ulama Syafi’iyah tidaklah melarang hal ini. Karena tugas makmum hanyalah mengikuti imam. Jadi jika imam melakukan sujud tilawah, maka makmum hanya manut saja dan dia ikut sujud. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا
Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam sujud, maka bersujudlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu pula apabila seorang makmum tatkala dia berada jauh dari imam sehingga tidak bisa mendengar bacaannya atau makmum tersebut adalah seorang yang tuli, maka dia harus tetap sujud karena mengikuti imam.


Tahukan Kamu Mengenai Ayat Ayat Sajadah Dalam Shalat Subuh 3 Rakaat!
 


Dari awal diturunkan perintah sholat hingga hari kiamat, jumlah rakaat sholat tidak akan berubah sebab itulah ketetapan yang Allah tentukan pada umat Muslim agar mereka mendirikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri dan meraih keridhoan-Nya.

Seorang anak kecil diajak sang ayah untuk mendirikan sholat Subuh di masjid. Hari itu bertepatan dengan hari Jumat sehingga surah yang dibaca pada rakaat pertama dan rakaat kedua lumayan panjang.

Rakaat pertama saat usai membaca surah Al Fatihah, sang imam melanjutkan membaca surah plihan, ketika beberapa ayat dibaca, sang imam bertakbir dan langsung turun untuk sujud.

Sang anak pun ikut turun dan bersujud. Sebelumnya dia tak menyadari bahwa ketika itu tidak ada ruku’. Dia dan beberapa jamaah yang baru pertama kali ikut merasa kebingungan sebab tidak ada ruku’ langsung sujud.
Setelah sujud pun sang imam langsung berdiri tidak melakukan duduk antara dua sujud. Setelah itu, dia melanjutkan surah yang terpotong hingga akhir.
Seusai membaca surah hingga akhir, sang imam bertakbir kembali kemudian ruku’, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud, bangkit kembali berdiri.

Selanjutnya seperti biasa, membaca Surah Al Fatihah dan surah pilihan kemudian ruku’ hingga salam.
Setelah selesai sholat Subuh, ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah, sang anak memberanikan diri untuk bertanya kepada ayahnya,
“Ayah, kok tadi sholat Subuhnya tiga rakaat ya?", tanya sang anak dengan polos.
“Itu bukan rakaat nak, tapi itu namanya sujud tilawah, tidak dihitung rakaat", jawab sang ayah.
“Sujud tilawah apa itu Yah?
“Sujud yang dilakukan di dalam sholat apabila kita membaca dan mendengar ayat-ayat sajadah yang ada di dalam Qur’an"
Satu ilmu diperoleh sang anak saat melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah. Dia diperkenalkan oleh sang ayah tentang sujud tilawah dan ayat-ayat sajadah. Apakah kita pernah menemui sholat Subuh seperti cerita diatas? Ataukah kita sudah pernah melakukan sujud tilawah tersebut?

Dibeberapa masjid, biasanya pada saat sholat Subuh hari Jumat menetapkan untuk melakukan sujud tilawah dengan membaca ayat-ayat sajadah yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Apabila kita membaca dan mendengarkan ayat-ayat sajadah maka kita disunnahkan untuk bersujud. Walaupun beberapa ulama berbeda pendapat tentang hukum sujud tilawah. Ada yang mengatakan sujud tilawah hukumnya sunnah muakkad, tidak wajib yakni Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Ada pula yang mengatakan bahwa hukumnya sunnah yakni Imam Maliki, Sedangkan mazhab Imam Hanafi hukumnya wajib sujud tilawah ketika seseorang membaca ataupun mendengar ayat-ayat sajadah.

Terlepas dari berbagai pendapat. Semuanya adalah benar yang penting kita menyakininya masing-masing dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali ke pembahasan sujud tilawah, mungkin sebagian kita belum pernan merasakan sujud tilawah di waktu sholat Subuh, sebab diri ini masih enggan dan malu untuk ke masjid ketika adzan Subuh berkumandang. Padahal tersembunyi pahala yang besar yang disiapkan oleh Allah pada orang-orang yang mampu melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah.

Sujud tilawah tidak hanya dilakukan pada saat di dalam sholat. Di luar sholat pun pada saat kita membaca Al Qur’an kemudian menemui ayat-ayat sajadah maka kita bisa melakukan sujud tilawah.

Ada pun ayat-ayat sajadah tersebut, di dalam Qur’an terdapat lima belas ayat dengan berbeda-beda surah. Ayat-ayat sajadah tersebut antara lain :
1. QS Al-A’raf ayat 206
2. QS Ar-Ra’d ayat 15
3. QS An-Nahl ayat 49
4. QS Al-Isra ayat 107
5. QS Maryam ayat 58
6. QS Al-Haj ayat 18
7. QS An-Naml ayat 25
8. QS As-Sajadah ayat 15
9. QS Al-Furqan ayat 60
10. QS Fussilat ayat 38
11. QS Al-Haj ayat 77
12. QS An-Najm ayat 62
13. QS Al-Insyiqaq ayat 21
14. QS Al-Alaq ayat 19
15. QS Shad ayat 28

Ayat-ayat diatas itulah yang dinamakan sebagai ayat-ayat sajadah. Jika kita membaca atau mendengarkannya kita bisa melakukan sujud tilawah.
Seperti halnya cerita diawal, salah satu surah dari ayat-ayat sajadah itulah yang dibaca oleh sang Imam yang membuat beberapa orang jamaah bahkan sang anak kebingungan. Apakah sholat Subuh tiga rakaat? Bukan tiga rakaat, tetap dua rakaat. Namun, itu adalah sujud tilawah yang dilakukan di dalam sholat Subuh ketika membaca dan mendengarkan ayat-ayat sajadah.

"Sampai kapan engkau belajar?"



Assalamu'alaikum wbr. 

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya, 

"Sampai kapan engkau belajar?" 

Maka beliau menjawab, "Dari buaian hingga liang lahat."
 
Sungguh menakjubkan! 

Demikian yang terjadi pada kita semua , surutnya usia tidak memudarkan semangatnya dalam belajar agama?

Bagaimana dengan Anda?

wassalam.