Senin, 16 Januari 2017

PERNYATAAN Dr.EGGI SUDJANA MENGENAI DASAR NEGARA INDONESIA



Banyak Yang Tak Tahu, 
Ternyata Dasar Negara Indonesia Bukan Pancasila Tapi Allah SWT

Sejarah

Banyak Yang Tak Tahu, Ternyata Dasar Negara Indonesia Bukan Pancasila Tapi Allah.  
Apa yang disampaikan oleh Dr Eggi Sudjana SH MSi dalam talkshow di TV swasta malam 
itu sangat mengejutkan banyak pihak. 
Beliau menyebutkan bahwa jika dicermati, ternyata justru negara Indonesia ini secara 
hukum bukanlah berdasarkan Pancasila. Sebaliknya, di dalam UUD 45 malah ditegaskan 
bahwa dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dan sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, Tuhan yang dimaksud tidak lain adalah Allah 
subhanahu wata'ala. Sehingga secara hukum jelas sekali bahwa dasar negara kita ini 
sebenarnya adalah Islam.




Pernyataan itu muncul saat berdebat dengan Abdul Muqsith yang mewakili kalangan 
AKK-BB. Saat itu Abdul Muqsith menyatakan bahwa Indonesia bukan negara Islam, 
bukan berdasarkan Al Qura'n dan Al Hadits, namun berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Mungkin Abdul Muqsith ingin menegaskan bahwa Ahmadiyah boleh saja melakukan kegiatan 
yang bertentangan dengan ajaran Islam, toh negara kita kan bukan negara Islam, bukan 
berdasarkan Quran dan Hadits.

Tetapi tiba-tiba Mas Eggi balik bertanya tentang siapa yang bilang bahwa dasar negara kita ini 
Pancasila? Mana dasar hukumnya kita mengatakan itu?

Abdul Muqsith cukup bingung diserang dengan pertanyaan seperti itu. Rupanya dia tidak siap 
ketika diminta untuk menyebutkan dasar ungkapan bahwa negara kita ini berdasarkan Pancasila 
dan UUD 45.

Ketika itulah mas Eggi langsung menyebutkan bahwa yang adalah UUD 45 menyebutkan tentang 
dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Pancasila. Sebagaimana yang 
disebutkan dalam UUD 45 pasal 29 ayat 1.

Jika dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Eggi Sujana itu. Mana teks resmi 
yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila. Kita yang awam ini agak kaget juga 
mendengar jawaban Eggi.

Entahlah apa ada ahli hukum lain yang bisa menjawabnya. Yang jelas si Abdul Muasith itu hanya 
bisa diam saja, tanpa bisa menjawab apa yang ditegaskan oleh Eggi Sujana.

Dan rasanya kita memang tidak atau belum menemukan teks resmi yang menyebutkan bahwa 
dasar negara kita ini Pancasila.

Diskusi itu menjadi menarik, lantaran kita baru saja tersadar bahwa dasar negara kita menurut 
UUD 45 ternyata bukan Pancasila sebagaimana yang sering kita hafal selama ini sejak SD. 
Pasal 29 UUD 45 ayat 1 memang menyebutkan begini:

1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa

Lalu siapakah Tuhan yang dimaksud dalam pasal tersebut, jawabannya menurut Eggi adalah 
Allah SWT. Karena di pembukaan UUD 45 memang telah disebutkan secara tegas tentang 
kemerdekaan Indonesia yang merupakan berkat rahmat Allah SWT.

Dalam argumentasi mas Eggi, yang namanya batang tubuh dengan pembukaan tidak boleh 
terpisah-pisah atau berlawanan. Jika dalam batang tubuh yaitu pasal 29 ayat 1 disebutkan 
bahwa negara Indonesia berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka Tuhan itu 
bukan sekedar Maha Esa, juga bukan berarti tuhannya semua agama. Namun tuhannnya umat 
Islam, yaitu Allah SWT.

Hal itu lantaran secara tegas Pembukaan UUD 45 menyebutkan lafadz Allah SWT. Dan hal itu 
tidak boleh ditafsirkan menjadi segala macam Tuhan, bukan asal Tuhan dan bukan tuhan-tuhan 
buat agama lain. Tuhan Yang Maha Esa di pasal 29 ayat 1 itu harus dipahami oleh rakyat 
Indonesia sebagai Allah SWT, bukan Yesus, bukan Bunda Maria, bukan Sidharta Gautama, 
bukan dewa atau pun tuhan-tuhan dalam nama yang lain.

Terlepas apakah nanti ada ahli hukum tata negara yang bisa membantah pemikiran Eggi Sujana itu, 
yang pasti Abdul Muqsith tidak bisa menjawabnya. Dan pandangan bahwa negara kita ini bukan
 negara Islam serta tidak berdasarkan Quran dan Sunah, secara jujur harus kita akui harus 
dikoreksi kembali.

Sebab jika kita lihat latar belakang semangat dan juga sejarah terbentuknya UUD 45 oleh para 
pendiri negeri ini, nuansa Islam sangat kental. Bahkan ada opsi yang cukup lama untuk 
menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara Islam yang formal.
Bahkan awalnya, sila pertama dari Pancasila itu masih ada tambahan 7 kata, yaitu: dengan 
menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya.

Namun lewat tipu muslihat dan kebohongan para penguasa, dan tentunya melewati perdebatan 
yang sangat panjang, 7 kata itu harus dihapuskan. Sekedar memperhatikan kepentingan kalangan 
Kristen yang merasa keberatan dan main ancam mau memisahkan diri dari NKRI.

Padahal 7 kata itu sama sekali tidak mengusik kepentingan agama dan ibadah mereka. 
Toh Indonesia ini memang mayoritas muslim, namun betapa lucunya tingkah mereka, tatkala 
pihak mayoritas mau menetapkan hukum di dalam lingkungan mereka sendiri lewat Pancasila,
kok bisa-bisanya orang-orang di luar agama Islam pakai acara protes segala. Padahal apa 
urusannya mereka dengan 7 kata itu.

Jika dipikir lebih mendalam, betapa tidak etisnya kalangan Kristen saat awal kita mendirikan negara, 
di mana mereka sudah ikut campur urusan agama lain, yang mayoritas pula. Sampai mereka berani 
nekat mau memisahkan diri sambil berdusta bahwa Indonesia bagian timur akan segera memisahkan 
diri kalau 7 kata itu tidak dihapus.

Akhirnya dengan legowo para ulama dan pendiri negara ini menghapus 7 kata itu, demi persatuan 
dan kesatuan. Tapi apa lacur, air susu dibalas air tuba. Alih-alih bisa duduk rukun dan akur, 
kalangan Ekstrem Kristen yang didukung kalangan sekuler itu tidak pernah berhenti ingin 
menyingkirkan Islam dari negara ini.

Dan semangat penyingkiran Islam dari negara semakin menjadi-jadi dengan adanya penekanan 
asas tunggal di zaman Soeharto. Semua ormas apalagi orsospol wajib berasas Pancasila.

Sesuatu yang di dalam UUD 45 tidak pernah disebut-sebut. Malah yang disebut justru negara ini berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan Tuhan yang dimaksud itu adalah Allah SWT 
sesuai dengan yang tercantum di dalam Pembukaan UUD 45.

Jadi sangat tepat jika kalangan sekuler harus sibuk membuka-buka kembali literatur untuk cari-cari 
argumen yang sekiranya bisa membuat Islam jauh dari negara ini.

Namanya perjuangan, pasti mereka akan terus mencari dan mencari argumen-argumen yang 
sekiranya bisa dijadikan bahan untuk dijadikan alibi untuk menjauhkan Islam dari negara. 
Sebab mereka memang sangat alergi dengan Islam. Seolah-olah ajaran Islam itu harus 
diberantas, atau merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai.

Kita harus mengakui bahwa kalangan sekuler anti Islam itu di negeri ini sangat banyak. 
Dalam kepala mereka, mungkin lebih baik negara ini menjadi komunis dari pada jadi negara Islam.

Wallahu A'lam bissawab                       

Mintalah Belas Kasihan dari Allah , Jangan Berharap Belas Kasihan dari Manusia

 

             Mintalah Belas Kasihan dari Allah , Jangan Berharap Belas Kasihan dari Manusia

Kamis, 12 Januari 2017

BIDADARIKU YANG SEDANG MENYAMAR



BIDADARIKU YANG SEDANG MENYAMAR


Ibnu Qayyim rahimahullahu menyebutkan dalam sebuah hadits shahih dalam Musnad Imam Ahmad, 
bahwa ketika seorang suami beristrikan Hur‘ain (bidadari), kemudian pada saat itu akan datang 
seorang wanita lain yang kecantikan dan keelokannya mampu membuat seorang raja melupakan 
wanita-wanita lainnya.

Siapa wanita itu...?

Ternyata wanita tersebut adalah istrinya selama di dunia. Itulah keistimewaan para istri di surga, 
dia akan menjadi RATU dari para Hur‘ain (bidadari). Lalu, Ibnu Qayyim mengatakan, 
“Apakah seorang raja pernah memikirkan para pelayannya dihadapan RATU-nya...?”

TENTU TIDAK...!
Jadi, Allah akan memberikan pada istri kecantikan yang luar biasa jauh melebihi para bidadari.

KENAPA BEGITU...???

Ibnu Qayyim menjelaskan,

“Karena Hur‘ain (bidadari) tidak pernah menghadapi kesulitan yang dirasakan wanita dunia. 
Mereka tidak pernah berjuang di jalan Allah, tidak pernah dicemooh orang karena mengenakan 
hijab, tidak pernah merasakan sulitnya patuh pada suami,... dan seterusnya.”

Mengenai keistimewaan istri (wanita) di surga dibandingkan bidadari, 
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa wanita dunia yang shalihah lebih utama 
daripada bidadari surga.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata bahwa ia telah bertanya kepada 
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli...?”

Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab,

“Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan 
apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Kemudian ia bertanya lagi,

“Karena apa wanita dunia lebih utama daripada para bidadari...?”

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab,

"Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Allah 
Tabaraka wa Ta'ala meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, 
kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya ke-kuning-kuningan, sanggulnya 
mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, 
kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak 
sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang 
yang memiliki kami dan kami memilikinya'.”
(HR. Ath Thabrani)

Masya Allah...!
Sungguh ini sebuah kemuliaan yang diberikan kepada kaum wanita khususnya para istri. 
Derajat mereka bisa menjadi lebih mulia daripada bidadari surga. 
Mereka akan menjadi 'RATU' bidadari surga.

Untuk para kaum wanita....
Jangan sia-siakan kesempatan kalian untuk menjadi ratunya para bidadari di surga.

Ingat...!
Setelah meninggal tidak ada kesempatan untuk kembali ke dunia lagi.

Mulai sekarang, bagi para istri dan calon istri. Marilah berlomba-lomba agar bisa menjadi istri 
yang shalihah di dunia...!

(Ibn Al-Qayyim menjelaskan ini dalam kitabnya Raudhatu Al-Muhibbin).

Wallahu Ta'ala A'lam.

Semoga bermanfaat.
Baarakallahu fikum.

3 Syarat Disebut Bid’ah



3 Syarat Disebut Bid’ah

Sebagian orang kadang memahami apa yang dimaksud dengan bid’ah. 
Mereka menganggap bahwa bid’ah adalah setiap perkara baru. 
Sehingga karena saking tidak suka dengan orang yang meneriakkan bid’ah, 
ia pun mengatakan, “Kalau memang hal itu bid’ah, kamu tidak boleh pakai HP, 
tidak boleh haji dengan naik pesawat, tidak boleh pakai komputer, dst karena 
semua itu baru dan bid’ah adalah suatu yang baru dan dibuat-buat“. Padahal 
sebenarnya hal-hal tadi bukanlah bid’ah yang tercela dalam Islam karena bid’ah 
yang tercela adalah bid’ah dalam masalah agama. Begitu juga ada yang tidak setuju dengan nasehat bid’ah, ia menyampaikan bahwa para sahabat dahulu mengumpulkan 
Al Qur’an dan di masa ‘Umar dihidupkan shalat tarawih secara berjama’ah. 
Syubhat-syubhat yang muncul ini karena tidak memahami hakekat bid’ah. Untuk 
lebih jelas dalam memahami bid’ah, kita seharusnya memahami tiga syarat disebut bid’ah yang disimpulkan dari dalil-dalil berikut ini.

Pertama: Hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits tersebut disebutkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Kedua: Hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan 
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah 
sesat.”
Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

Ketiga: Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada 
asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

Keempat: Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan apa yang dimaksud bid’ah yang terlarang dalam agama, yaitu:
1. Sesuatu yang baru (dibuat-buat).
2. Sesuatu yang baru dalam agama.
3.Tidak disandarkan pada dalil syar’i.


Pertama: Sesuatu yang baru (dibuat-buat).

Syarat pertama ini diambil dari sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْدَثَ

“Siapa yang berbuat sesuatu yang baru.”

كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

“Setiap yang baru adalah bid’ah.”
Sehingga masuk dalam definisi adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya baik berkaitan dengan urusan agama maupun dunia, baik sesuatu yang terpuji (mahmudah) maupun yang tercela (madzmuma). Sehingga perkara yang sudah ada sebelumnya yang tidak dibuat-buat tidak termasuk bid’ah seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Perkara dunia juga termasuk dalam definisi pertama ini, namun akan semakin jelas jika kita menambah pada syarat kedua.

Kedua: Sesuatu yang baru dalam agama.
Karena dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan,

فِى أَمْرِنَا هَذَا

“Dalam urusan agama kami.” Sehingga perkara dunia tidak termasuk dalam hal ini. 
Yang dimaksudkan bid’ah dalam urusan agama berarti: 
(1) bid’ah mendekatkan diri pada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan, 
(2) bid’ah telah keluar dari aturan Islam, dan 
(3) sesuatu dilarang karena dapat mengantarkan pada bid’ah lainnya.

Ketiga: Tidak disandarkan pada dalil syar’i yang bersifat umum maupun khusus.
Hal ini diambil dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا لَيْسَ مِنْهُ

“Tidak asalnya (dalilnya) dalam Islam.”
Ini berarti jika sesuatu memiliki landasan dalam Islam berupa dalil yang sifatnya umum seperti dalam permasalahan ‘maslahah mursalah’, contoh mengumpulkan Al Qur’an di masa sahabat, maka tidak termasuk bid’ah. Begitu pula jika ada sesuatu yang mendukung dengan dalil yang sifatnya khusus seperti menghidupkan kembali shalat tarawih secara berjama’ah di masa ‘Umar bin Khottob tidak termasuk bid’ah.
Tiga syarat di atas telah kita temukan pula dalam perkataan para ulama berikut.
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata,

فكلُّ من أحدث شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ، ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ، والدِّينُ بريءٌ منه ، وسواءٌ

في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة
 .

“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin.”
Beliau rahimahullah juga berkata,

والمراد بالبدعة : ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً

“Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki 
landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. 
Adapun jika didukung oleh dalil syar’i, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa.”
Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

 “Yang dimaksud setiap bid’ah adalah sesat yaitu setiap amalan yang dibuat-buat 
dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum.”
Ibnu Hajar juga menyatakan mengenai bid’ah,

مَنْ اِخْتَرَعَ فِي الدِّين مَا لَا يَشْهَد لَهُ أَصْل مِنْ أُصُوله فَلَا يُلْتَفَت إِلَيْهِ

“Siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama lalu tidak didukung 
oleh dalil, maka ia tidak perlu ditoleh.”
Di tempat lain, Ibnu Hajar berkata,

في عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة بِخِلَافِ اللُّغَة فَإِنَّ كُلّ شَيْء أُحْدِث عَلَى
وَمَا كَانَ لَهُ أَصْل يَدُلّ عَلَيْهِ الشَّرْع فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ ، فَالْبِدْعَة فِي عُرْف
غَيْر مِثَال يُسَمَّى بِدْعَة سَوَاء كَانَ مَحْمُودًا أَوْ مَذْمُومًا

“Sesuatu yang memiliki landasan dalil dalam syari’at, maka itu bukanlah bid’ah. 
Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela berbeda dengan pengertian 
bahasa karena bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa 
ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela.”
Setelah memahami yang dikemukakan di atas, pengertian bid’ah secara ringkas 
adalah,

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil.”
Inilah yang dimaksud dengan bid’ah yang tercela dan dicela oleh Islam.
Semoga dengan memahami hal ini, kita tidak rancu lagi dengan berbagai macam 
hal seputar bid’ah, terkhusus dalam memahami perkataan ulama mengenai bid’ah hasanah.

Rabu, 04 Januari 2017

RENUNGAN AGAR HATI KITA IKHLAS :



RENUNGAN AGAR HATI KITA IKHLAS :

● Ikhlas itu….
Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.

● Ikhlas itu…
Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

● Ikhlas itu…
Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

● Ikhlas itu…
Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.

● Ikhlas itu…
Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.

● Ikhlas itu…
Ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.

● Ikhlas itu..
Ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.

● Ikhlas itu…
Ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.

● Ikhlas itu…
Ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat langkah.

● Ikhlas itu…
Ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.

● Ikhlas itu…
ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan
jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.

● Ikhlas itu….
Gampang diucapkan, sulit diterapkan….. namun tidak mustahil diusahakan….

● Ikhlas itu...
Seperti surat Al Ikhlas.. Tak ada kata ikhlas di dalamnya

 IKHLAS
Ikhlas itu...tak bisa di buktikan dengan kata: Aku ikhlas kok.
Ikhlas itu... Memberi tanpa menoleh lagi apa yang kita beri.
Ikhlas... itu berbuat baik meski tak seorangpun melihat.
Ikhlas itu... menolong tanpa mengharap pamrih.
Ikhlas itu... memberi manfaat tanpa mengharap pujian manusia.
Ikhlas itu... mem-posting hal baik tanpa mengharap LIKE atau komentar.
Setelah itu biar ALLAH yang menyelesaikan sisaNya.
Subhanallah aku patut diam saja, tanpa sepatah kata pun berucap.                                   

 Semoga bermanfaat.Aamiin