JALAN KELUAR DARI PUSARAN HUTANG
Pelajari Polanya dan Lakukan Tipsnya!!!
Salah satu yang saya coba refleksikan dalam pergantian tahun
kali ini adalah soal hutang. Mempelajari polanya dan mencoba merumuskan
solusinya.
Kenapa ini penting direfleksikan? Karena saya liat tak
banyak yang mencoba membuat resolusi yang fokus di sektor ini. Padahal di
antara mereka justru banyak yang terjebak dalam masalah ini. Tapi justru tidak
mencoba merefleksikannya dan menjadikannya sebagai resolusi penting untuk
kehidupannya di masa mendatang.
.
Membuat test case
Dalam satu tahun Kemaren itu sepanjang tahun 2016 saya
memang menyengaja mencoba memposisikan diri sebagai pihak yang tidak berhutang.
Tapi sebaliknya menjadi pihak yang di posisi pemberi hutang. Biasanya sih saya
yang paling demen berhutang.
Apakah uang saya lagi banyak? Tidak juga! Mungkin saja malah
sebenarnya duit orang-orang itu lebih banyak. Tapi saya punya tujuan lain
memang. Saya ingin memecahkan salah satu misteri utang. Yang itu banyak terjadi
di sekeliling kita.
Apakah itu? Yakni, kenapa orang-orang yang berhutang
kebanyakan akan sulit mengembalikan hutangnya dan plus ditambah menjadi sangat
sulit jalan rezekinya, bahkan seringkali menjadi semakin buntu? Apakah ini
kebetulan ataukah ini sebuah ilmu? Artinya bisa dijelaskan secara ilmiah, bisa
diterangkan berdasarkan pola-polanya dan bisa dijelentrehkan sabab dan
musababnya.
.
Melihat Tiga Fakta
Fakta yang pertama, setahun ini saya memberi hutang pada
lebih dari 20 orang. Sebetulnya awalnya ingin saya batasi hanya 9 orang. Tapi
mungkin mendengar dari mulut ke mulut kalau hutang ke si A itu gampang, maka
jumlahnya kemudian bengkak menjadi tiga kali lipatnya. Ada yang hanya hutang
satu juta, sepuluh juta, ada yang seratus juta, bahkan ada yang hampir 200
juta. Dan semuanya tanpa ada tanda tangan hitam di atas putih. Dan itu memang
saya sengaja. Asal transfer saja dan percaya dengan apa yang diminta. Pokoknya
dibikin semuanya mudahlah, kan memang sudah diniati dari awal.
Apa yang menarik dari sini? Ternyata mereka yang berhutang
itu datang dengan pola yang sama. Mau berhutang dengan nominal sekian dan
menyebutkan alasannya bahkan ada yang sambil menitikkan airmata. Setelah itu
memperkuat alasan itu dengan janji, sekali lagi dengan janji, bahwa uang akan dikembalikan
tanggal sekian atau bulan sekian atau setelah proyeknya selesai. Kadang itu
disertai sumpah segala.
Fakta kedua, berapa orang yang akhirnya membayar dan
memenuhi pembayaran tepat sesuai janjinya? Survei membuktikan: Hanya lima
orang. Artinya kurang dari 25 persen dari total mereka yang berhutang.
Bagaimana perilaku sebagian besar mereka? Hampir polanya
sama. Mereka Menghindar. Mematikan telepon. Dihubungi tidak direspons. Bahkan
ada yang menghilang. Intinya satu, mereka pergi atau lari dari tanggung jawab
dan mengingkari janjinya sendiri.
Fakta yang ketiga, bagaimana kehidupan mereka setelah
berhutang dan kemudian lari dari kewajibannya? Apakah lebih baik atau justru
lebih buruk kondisi hidupnya?
Ternyata pola yang ditemukan juga sama. Hidup mereka semakin
susah semua. Secara ekonomi semakin terpuruk bahkan ada yang makin terlilit
hutang dengan pihak-pihak lainnya. Makin bertumpuk hutangnya. Secara sosial
juga buruk. Terisolir atau mengisolir diri dari pergaulan dan lingkungan
sosialnya. Hubungan dengan keluarganya juga menjadi sangat buruk. Secara
spiritual juga kacau balau. Ibadahnya berantakan, kedekatan kepada Tuhan nyaris
ke titik terendah bahkan ada yang kemudian menyalah-salahkan Tuhan. Menuduh
Tuhan sudah tidak adil dalam hidupnya. Fatal banget pokoknya!
.
Mengapa fakta itu bisa terjadi? Kenapa mereka yang berhutang
itu tidak bisa menyelesaikan hutangnya? Kenapa kehidupannya makin terpuruk?
Mengapa mereka semakin terlilit hutang yang lebih dalam?
Yang pertama, saya perlu garis bawahi hutang itu bukan hal
yang buruk, bukan sebuah kejahatan, bukan suatu dosa, dan bahkan nabi pun
melakukannya. Jadi hutang itu muamalah biasa. Buktinya yang 25% faktanya
sebaliknya. Bisa mengembalikan hutangnya sampai lunas, rezekinya makin lancar,
dan kehidupan sosial spiritualnya makin baik.
Dalam konteks ini bahkan ada fenomena menarik yang dilakukan
sahabat saya Marjunul Noor Purwoko yang melakukan aksi semacam ini, terbukti
untuk sampai detik ini, 90% yang pinjam modal ke dia bisa mengembalikan sesuai
kesepakatannya. Nah peminjam peminjam yang disiplin membayar hutangnya inilah
yang nanti bisnisnya akan cepat sukses.
Nah di mana salahnya? Dimana perbedaannya? Saya mencoba
menjelentrehkan dalam bahasa sederhana berdasarkan "riset perilaku"
dalam setahun terakhir ini.
Pertama, kenapa Anda terjebak dalam kumparan hutang yang tak
selesai? ini ada hubungannya dengan teori niat dan aksi. Maksud saya, antara
niat awal dengan fakta yang terjadi sesungguhnya punya hubungan kausalitas yang
erat. Fenomenanya bisa dijelaskan begini.
Kebanyakan dari mereka yang berhutang ini setelah uangnya
diterima tiba-tiba berubah dari niat awalnya. Yang semula uang itu dimaksudkan
untuk keperluan produktif tiba-tiba dialihkan ke keperluan lain yang biasanya
konsumtif. Ada penyimpangan niat di situ.
Dalam agama ada ajaran bahwa semua amal itu tergantung
niatnya. Niat juga menentukan hasil akhirnya. Apa yang diniatkan dan apa yang
dilakukan juga dicatat malaikat. Nah bagaimana jika niatnya sudah keliru? Tentu
akan mempengaruhi hasil akhirnya. Niat yang salah akan menghasilkan tindakan
dan dampak yang salah juga. Karena niatnya sudah diselewengkan maka hasil
akhirnya akan sesat juga. Langkah akan terseok-seok, jalan tidak lurus, dan itu
akan bikin susah diri sendiri.
Jadi faktor niat ini yang harus menjadi prioritas ketika
orang mau berhutang. Jangan pernah dipakai uang itu diluar dari apa yang sudah
diniatkan dari awal. Bahaya karena akan menjadi awal malapetaka yang akan jadi
belenggu Hidup Anda. Pakai uangnya sesuai peruntukannya. Biar ke depannya juga
mudah jalanya. Ini nanti ada hubungannya dengan konsep vibrasi.
Kedua, perilaku yang salah. Ingkar janji. Hampir ini yang
dilakukan semua yang berhutang itu. Ketika sudah pegang uang tidak segera untuk
mengembalikan pinjaman. Kebiasaan menunda diteruskan di sini. Ini sepele tapi
sebetulnya sangat berbahaya. Apalagi sudah menunda pembayaran ditambah lagi
susah dihubungi.
Ganti nomor HP. Menghindar pertemuan dengan bebohong.
Pura-pura lupa atau menyusun berbagai alasan yang dibuat-buat. Intinya Anda
bikin susah orang. Akibatnya nanti Anda juga akan terjebak dalam kumparan
kesulitan yang tak berujung, khususnya problem keuangan yang tak kunjung
selesai.
Ketika Anda menunda pembayaran hutang sesungguhnya Anda
sedang mengirim sinyal ke semesta agar pintu-pintu rezeki Anda dari jalan yang
lain juga ditunda atau mandeg. Mengingkari janji dalam bentuk menunda bayar
hutang itu adalah bagian dari doa Anda sendiri yang mau tidak mau harus
terwujud sesuai hukum alam. Bukankah Allah sendiri berfirman bahwa setiap
kebaikan yang kamu lakukan akan kembali ke dirimu sendiri dan setiap kejahatan
akan kembali pada dirimu sendiri. Ini hukum pasti. Langsung dari Tuhan sendiri.
Ini juga mudah dijelaskan dengan teori vibrasi tadi.
Ketiga, kita menjadi sulit keluar dari kumparan hutang
karena ketika hutang itu tidak segera dibayar kita masuk dalam hukum kezaliman.
Apa mAksudnya? Membayar hutang itu wajib dan Anda sudah berjanji dari awal.
Tapi begitu dikhianati sesungguhnya Anda telah menzalimi orang lain yang telah
membantu Anda.
Bagaimana rasanya dizalimi? Kita pasti paham dan pernah
merasakannya: kecewa, gelisah, resah,kesal, nggondok, mangkal. Pokoknya serba
negatif dan susahlah. Yang mungkin tidak Anda tahu getaran negatif itu akan
tersambung ke Anda karena ada medianya atau sebabnya yakni proses hutang
piutang itu. Rasa kecewa, susah, sakit hati dan semacamnya itu akan tertransfer
langsung ke Anda. Menumpuk ke dalam jiwa Anda.
Akibatnya setiap hari Anda mengalami perasaan tidak enak.
Tidak bisa tenang. Berpikir jernih pun susah. Apa pun yang Anda lakukan akan
salah atau kepentok banyak kendala. Kalo Anda masih memakai uang itu untuk
bisnis pun dijamin tidak akan berhasil. Yang ada malah masalah baru. Ketipu,
dicuri, hilang, duitnya dijambret dan seterusnya. Alih-alih hutang pertama
terselesaikan, yang terjadi justru akan ketambahan utang baru yang kian hari
kian menumpuk. Dan Disitulah tanda tanda kehancuran hidup Anda akan tampak.
Lalu bagaimana agar saat dalam posisi banyak berhutang itu
Anda bisa segera menyelesaikannya dan lalu justru mendapatkan bonus kemudahan
aliran rezeki dari bisnis atau proyek yang bagus yang hasilnya bisa untuk
menutupsemua hutang dan bahkan masih punya kelebihan yang banyak?
Ya tentu saja harus kembali ke ketiga hukum tadi. Pertama,
luruskan antara niat dan aksinya. Jangan tergoda untuk menyelewengkan niat.
Ingat, ini sepele tapi bahaya. Terpeleset di niat imbasnya akan bikin Anda
masuk dalam kumparan kesusahan berkepanjangan.
Kedua, begitu uang sudah ada langsung Anda bayarkan
secepatnya. Jangan ditunda, agar energi positif langsung merasuk ke tubuh Anda.
Begitu Anda membayar maka otak akan merekam itu sebagai memori bahwa Anda itu
kaya, punya duit, mampu. Buktinya bisa membayar kok meskipun dengan
ngos-ngosan. Dan itulah yang nanti akan diproses otak untuk mewujudkan secara
nyata.
Sebaliknya jika Anda tunda pembayarannya maka otak akan
merekam itu sebagai tanda bahwa Anda memang miskin, tidak mampu, serba
kekurangan buktinya sudah pegang uang pun tidak sanggup membayar. Otak akan
memprosesnya sebagai energi untuk membentuk hidup Anda akan begitu terus
kondisinya. Serba kurang dan tidak mampu, meski sekedar untuk membayar sebagian
hutang yang seharusnya menjadi kewajiban yang diutamakan.
Ketiga, agar Anda terhindar dari doa dan vibrasi orang yang terzalimi
padahal dia sudah baik menolong Anda dengan memberi hutang, maka datangi dan
mintalah kelegaan hatinya. Datangi, bicara, mintai maaf atas keterlambatan
pembayaran. Atau baru bisa membayar sebagian hutang itu. Atau bahkan saat belum
bisa bayar sama sekali. Itu akan menenangkan keduabelah pihak. Jika jiwa Anda
tenang maka Anda akan bisa bekerja atau berbisnis dengan baik yang akan berbuah
keuntungan karena semua energi di tubuh dan pikiran sudah dibuat positif. Pada
gilirannya semesta akan mendukung semua langkah Anda bertemu dengan
keberuntungan demi keberuntungan. Dan hidup susah itu akan menjauh dengan
sendirinya.
Anda percaya dengan hukum tabur tuai atau hukum karma? Bahwa
yang anda lakukan itu akan berbalik ke diri anda sendiri. Anda mamanen apa yang
anda tanam. Anda bikin. Sudah orang maka hidup anda akan makin susah dan terus
menerus dalam kesulitan?
Kenapa begitu? Ini bisa dijelaskan dengan teori hukum
kekekalan energi. Dunia ini adalah energi. Jumlahnya tetap. Tidak bertambah dan
tidak berkurang. Dia hanya berpindah dan berubah bentuk saja. Nah kalo anda
sedang berhutang itu artinya sedang ada energi positif yang anda terima dari
orang lain. Jangan jadikan itu bola panas. Jangan diendapkan terus energinya.
Harus segera ditranfer lagi dengan cepet mempermudah pembayaran. Kalo anda
endapkan hemmmmm akan seperti air. Dia akan menggenang, bau dan jadi tempat
berkubangnya bibit penyakit. Itu yang kemudian menjadikan hidup terus berada
dalam kumparan kesulitan. Sebelum energi itu anda alirkan lagi maka selamanya
hidup anda tidak akan berubah. Dalam zona negatif terus. Hutang Anda tidak akan
beres dan jalan rezeki Anda tidak akan bertambah banyak. Kuncinya itu tadi,
kalau memudahkan ya akan dimudahkan, kalau menyulitkan ya akan makin sulit
hidupnya. Dan itu kembali kepada yang
bersangkutan. Mau terus berkubang di situ atau lepas dari kubangan itu.
Makin cepat anda kembalikan hutang Anda, meski dengan
bersusah-payah, makin cepat energi alam ini membawa anda ke area energi yang
lebih positif. Di situlah satu persatu jalan kemudahan hidup anda terbuka
dengan sendirinya. Terbuka lebar-lebar dan dari banyak arah. Dan itu hukum
kekekalan energi yang pasti.
.
Sedekah itu Leverage
Bagaimana dengan ustad yang menganjurkan agar ketika hidup
kita susah dan banyak hutang justru harus sering-sering bersedekah?
Nah itu juga benar. Sebab ketika kita memberi itu sebenarnya
kita sedang mengirimkan sinyal ke otak dan semesta bahwa kita ini mampu, kaya,
tidak kekurangan. Buktinya sedekah terus kok. Itu yang lagi-lagi akan diproses
otak dengan mekanisme vibrasi tertentu untuk segera diwujudnyatakan. Dijadikan
pribadi kaya yang sanggup melunasi semua hutangnya.
Sudah tentu tidak cukup dengan sedekah doang. Itu potong
kompas namanya. Sedekah itu leverage, daya ungkit. Tapi pada prinsipnya ikhtiar
yang tiga tadi dilakukan dulu. Jadi komplementer itu.
Makanya kalau memasuki tahun 2017 ini Anda masih berada
dalam pusaran hutang yang tak selesai bisa mulai Instrospeksi dan berefleksi
dengan pola-pola di atas. Semoga Tuhan segera pertemukan Anda dengan
jalan-jalan kemudahan sehingga bisnis Anda jadi bagus dan banjir rezeki lagi,
berlimpah ruah tanpa batas.
Aminnnnn.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar