Rabu, 04 Januari 2017

PELAJARAN SANGAT BERHARGA DARI GENOSIDA UMAT ISLAM BOSNIA



PELAJARAN SANGAT BERHARGA DARI GENOSIDA UMAT ISLAM BOSNIA


(Refleksi Terhadap Toleransi Beragama) 

Pada abad ke-13, Bosnia adalah negara dengan mayoritas Muslim. 
Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. 
Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. 
Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya. 
Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. 
Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok. Semua hidup berdampingan dengan 
damai dalam bingkai kerukunan antarumat beragama. Kehidupan Muslim dengan nilai-nilai 
Islamnya lambat laun pudar di negeri Balkan. Diskotek dan bar muncul di setiap sudut kota. 
Tak ada lagi jarak antara Muslim dan non-Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bergaul,
hingga merayakan hari-hari besar keagamaan. Semuanya membaur atas nama besar toleransi. 
Dalam diary yang ditulis Zlatan Filipovic--seorang gadis Muslim yang terlahir dalam keluarga
terhormat di Sarajevo yang menjadi ibu kota Bosnia--diceritakan bagaimana sekulernya
warga Muslim sebelum 1992. 
Pada masa itu, tak ada lagi wanita Muslim yang memakai kerudung. 
Kaum lelaki juga hampir sama dengan para lelaki non-Muslim lainnya. 
Ketika hari raya agama, seperti Natal dan Lebaran Muslim, hampir seluruh warga 
Bosnia merayakannya. Tak peduli dia Muslim atau bukan. Anak-anak Bosnia juga 
terbiasa dengan tradisi barat, seperti Valentine, April Mop, tahun baru, Halloween, 
dan sejenisnya. Sementara, shalat tak lagi dilakukan. Muslim Bosnia--seperti Muslim Indonesia 
yang hijrah dari kepercayaan awalnya Hindu, Buddha, dan animisme--berasal dari pengikut 
Bogomil, pewaris keturunan Heretis. Keyakinan ini lenyap setelah Islam dari 
Ottoman Turki masuk dan menawarkan persamaan derajat. 
Sementara, Bosnia sendiri beridentitas sebagai penduduk mayoritas Muslim, pascaterpecahnya 
negara federal Yugoslavia (Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia) pada 1990. Di tengah keterlenaan mendalam umat Muslim Bosnia terhadap gaya hidup sekularisme dan toleransi agama yang berlebihan, bangsa Serbia yang mayoritas memeluk 
Kristen Ortodoks menyimpan api dalam sekam. Dengan dalih penyatuan kembali Yugoslavia 
dalam Republik Srpska, Serbia melakukan pembantaian terhadap Bosnia dan/atau pemeluk Islam. 
Sejarah mencatat aksi Serbia kepada umat Muslim Bosnia itu sebagai genosida terbesar pada 
masa modern. Pembunuhan dilakukan secara sistematis. Tujuannya menghapus sebuah bangsa 
dan etnik. 
Sekuler dan bergaya non-Muslim tak menyelamatkan Muslim Bosnia. 
Mereka dilenyapkan dan dibantai karena menyandang identitas agama Islam. 
Di atas kertas, Komisi Federal Bosnia untuk Orang Hilang mencatat ada 8.373 lelaki dan remaja 
Muslim Bosnia yang dibunuh dan terbuang 
dalam ratusan kuburan massal. Pada Juli 2012, 6.838 nama korban teridentifikasi dari galian
 kuburan massal. Zlatan Filipovic, gadis 13 tahun (saat mulai peperangan) yang selamat dari 
pembantaian yang berlangsung hingga 1995 tersebut menulis kesaksiannya. Muslim Bosnia 
yang tadinya tidak begitu memedulikan nilai-nilai Islam tersentak kaget mendapat serangan yang 
dimulai pada April 1992. 
Teman, saudara, dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya akrab, natalan bersama, 
dan merayakan Valentine bersama, kini meninggalkan mereka, bahkan berbalik menyerang dan 
membunuh mereka bersama tentara Serbia. 
Di tengah-tengah puing bangunan yang hancur terdengar desingan peluru yang menggema, l
edakan mortir, dan tangis pilu wanita Muslim korban pemerkosaan. D
alam kegetiran, Muslim Bosnia mulai sadar dan kembali kepada identitas keislaman mereka. 
Kesadaran muncul. Kaum perempuan kembali menggunakan kerudung, para lelaki sambil 
menenteng senjata untuk bertahan mulai kembali melakukan shalat. 
Azan mulai bergema di sela-sela gedung yang roboh. Kitab suci Alquran yang telah lama 
tersimpan di lemari-lemari dibuka kembali. Namun, mereka terlambat. 
Mereka sedang diburu peluru dan ujung belati yang haus darah Muslim. G
empuran yang terjadi membuat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp 
pengungsian. Srebrenica menjadi salah satu kamp terbesar. PBB menyatakan Srebrenica 
sebagai zona aman bagi pengungsi. Namun, zona itu hanya dijaga oleh 400 penjaga perdamaian 
dari Belanda, versi lain bahkan menyatakan hanya 100 personel. 
Tidak ada yang menjamin nyawa Muslim yang mengungsi aman. Medan pembantaian terbesar 
umat Muslim abad modern ini bahkan membuat Indonesia tersentak. 
Pada awal Maret 1995, Presiden Soeharto dan rombongan terbang langsung ke Eropa dan 
merangsek ke wilayah yang membara, Sarajevo. Memimpin negara Muslim terbesar 
menjadikan Soeharto melakukan operasi "berani mati" walau PBB menyatakan tak bisa menjamin 
keamanan kunjungannya. Pada 6 Juli 1995, pasukan Serbia mulai menggempur pos-pos 
tentara Belanda di Srebrenica dan berhasil memasuki Srebrenica lima hari setelahnya. 
Anak-anak, wanita, dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari 
pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun. 
Mereka dibawa dengan dalih untuk interogasi. Sehari setelah itu, pembantaian terjadi di 
gudang dekat Desa Kravica. 
Malang tak terbendung. Kabar yang berembus menyebut 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung 
diserahkan kepada pasukan Serbia karena Belanda meninggalkan Srebrenica. 
Muslim Bosnia pun sendirian di antara negara-negara Eropa yang hebat. 
Dalam waktu lima hari, 8.000 orang terbunuh di Srebrenica. NATO turun tangan setelah 
pembantaian, memaksakan perdamaian yang sangat terlambat. 
Di Sarajevo, 11 ribu orang dibantai tanpa ampun selama tiga tahun penyerangan. 
Diperkirakan, keseluruhan korban perang Bosnia mencapai 100 ribu orang. 
Sesuai dengan Kesepakatan Dayton tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan 
Herzegovina ditegakkan. Namun, negara tersebut dibagi dalam dua bagian: 51 persen 
wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia. 
PBB juga berjanji mengadili para penjahat perang dalam serangan yang kemudian disebut 
genosida pertama di dunia. 
Mantan presiden Republik Srpska (Serbia) Radovan Karadzic ditangkap pada 21 Juli 2008. 
Tiga bulan lalu, 23 Maret 2016, Karadzic diganjar 40 tahun penjara oleh 
International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY). 
Dia terbukti bersalah atas pembantaian 8.000 Muslim Bosnia. 
"Karadzic juga melakukan kejahatan kemanusiaan lain selama Perang Bosnia 1992-1995,''
 demikian bunyi amar putusan ICTY. Sementara, pemimpin serangan Srebrenica, 
Jenderal Ratko Mladic, ditangkap pada Mei 2011. Kini dia sedang diadili di 
Mahkamah Internasional. Pembantaian Muslim Bosnia dengan dalih penyatuan negara 
menjadi pelajaran bagi umat Islam di luar semenanjung Arab, khususnya Indonesia. 
Cerita pilu yang mendera Bosnia sepatutnya mengingatkan Indonesia agar tidak terlena 
dalam penghambaan pada sekulerisme. Sebab, sekulerisme memiliki banyak wajah. 
Salah satunya adalah untuk menghilangkan warna, pengaruh, dominasi, dan hak-hak 
yang mayoritas. 
Ketika Muslim mayoritas lemah karena krisis identitas, akan sangat mudah dipecah dan 
diadu domba. 
Di Indonesia sendiri, upaya agar Muslim meninggalkan identitas agama dalam kehidupan 
berbangsa dan negara telah ada sejak dulu. Belakangan, gerakan itu mulai tampak di 
permukaan dengan sangat masif dan sistematis, bahkan oleh lembaga legal sekali pun. 
Karena itu, jangan heran jika ada Muslim yang sangat ngotot menghina agamanya demi 
membela kebebasan versinya. Jangan heran jika ada Muslim yang ikut menghina ulamanya 
hanya karena ulama tersebut tak sepaham dengannya. 
Tidak heran jika banyak Muslim tak suka dengan tulisan-tulisan yang membahas penolakan 
Islam terhadap sekularisme. Inilah yang terjadi di Indonesia masa kini, negara yang masih 
dihuni oleh mayoritas umat Islam. 
Sementara, tidak ada yang salah dalam toleransi, sepanjang yang diberi toleransi tidak 
berlebihan, apalagi sampai menindas yang memberi toleransi. Di al-Ludd (kini Tel Aviv), 
Palestina pada 1903, beberapa Yahudi datang menawarkan persaudaraan dan hidup 
damai dengan warga Arab dan Palestina. Namun, hari-hari setelah deklarasi berdirinya 
Negara Israel pada 1948 oleh Eropa, warga Yahudi berubah menjadi buas bersama 
kedatangan para tentara Israel. Juli 1948, warga Arab Palestina dibantai, termasuk ribuan 
orang yang dimasukkan ke dalam masjid kemudian diberondong dengan peluru antitank. 
Malamnya, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran 
mereka, yang kemudian menjadi pusat pembantaian berikutnya: Tel Aviv. 
Hari berganti, warga Yahudi datang dengan gelombang eksodus setiap saat. 
Jadilah Palestina yang terjajah hingga saat ini. Sederhana, tapi sangat ekstrem dan kejam. 
Dunia juga mencatat betapa kejam perlakuan kepada pemeluk Islam yang menjadi minoritas. 
Hanya PBB dan bantahan dari Myanmar sendiri yang menyatakan pembunuhan terhadap 
Muslim Rohingya bukan sebuah genosida. 
Jauh dari itu, kenyataan menceritakan bagaimana genosida dilakukan dengan cara brutal 
dan terbuka oleh Buddha Myanmar kepada Rohingya yang tak berdaya. 
Belajar dari Muslim Bosnia yang mayoritas, saat ini mereka menjadi lebih agamais. 
Di tengah toleransi, perbedaan, dan kerukunan antarumat beragama, mereka tetap 
memperhatikan nilai-nilai Islam sebagai identitasnya. Kenyataan pahit 1992-1995 
telah mengajarkan kepada mereka bagaimana dunia berdetak, bahwa keburukan hanya 
beberapa helai di balik kebaikan. Kini Muslim Bosnia tak lagi merayakan tahun baru. 
Mereka lebih banyak menjaga diri dari melecehkan akidah Islam. 
Meski begitu, Bosnia tetap menjadi satu-satunya tempat di Eropa, di mana terdapat 
gereja, masjid, dan sinagoge yang berdiri berdampingan. Mungkin 1,8 juta Muslim Bosnia 
mulai sadar bahwa apa yang dikatakan menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, 
"Kejahatan yang terorganisasi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tak terorganisasi," 
benar adanya. 
Wallahualam. 
Penulis : Ilham Tirta (Wartawan Republika Online)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar