KAJIAN RUTIN KITAB RIADHUS SHALIHIN
NIAT IKHLAS BAGIAN KE 2
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dari Abdullah bin ‘Abbas RA berkata : Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah
mencatat hasanat (kebaikan) dan sayyi’at (kejahatan), kemudian menjelaskan keduanya.
Maka siapa yang berniat akan berbuat hasanat kemudian tidak dikerjakannya, Allah mencatat
untuknya satu hasanat, dan jika berniat kebaikan, kemudian dikerjakan, dicatat sepuluh hasanat,
mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Dan apabila berniat akan
berbuat sayyi’at (kejahatan), dan tidak dikerjakan, Allah akan mencatat baginya satu hasanat.
Dan jika niat itu dilaksanakan, maka ditulis baginya satu sayyi’’at (HR. Bukhary, Muslim)
Didalam hadits tersebut, tertuang jelas betapa Allah SWT begitu maha pemurah kepada
hamba-Nya, dengan memberikan anugerah yang banyak. Allah melipatgandakan balasan
untuk perbuatan baik, dan hanya membalas kejahatan dengan balasan yang sepadan.
Berbuat 1 kebaikan, Allah balas dengan 10 – 700 kebaikan.
Berniat 1 keburukan, dan diurungkan, Allah balas dengan 1 kebaikan.
Berniat 1 keburukan, dan dikerjakan, Allah balas dengan 1 kejahatan.
Rasulullah SAW menyampaikan pesan kepada sahabat-sahabatnya: Seandainya engkau
mengetahui seberapa besarnya rahmat Allah SWT, maka engkau akan selalu berbuat kemaksiatan. Seandainya engkau mengetahui seberapa besar adzab Allah SWT, maka engkau akan
selalu berbuat kebaikan.
Mengapa kita justru akan selalu berbuat maksiat jika kita tahu betapa besar rahmat dan
kasih sayang Allah SWT? Karena kita merasa mudah saja untuk bertaubat, dan beramal
shalih sedikit saja, Allah SWT memberikan balasan yang luar biasa.
Sementara jika kita tahu betapa dahsyatnya adzab Allah SWT karena suatu perbuatan dosa
yang terlihat remeh dan sepele, maka tidak ada lagi manusia yang berani bermaksiat, manusia
akan selalu didalam ketaatan kepada Allah SWT.
Para ulama telah berpesan kepada kita, agar kita tidak tertipu dengan pernyataan: 1 kejahatan
dibalas dengan 1 sayyi’at (kejahatan). Karena 1 sayyi’at ini sesungguhnya memiliki sedikitnya
10 perkara:
1. Terhalang dari memperoleh ilmu yang Haq (benar), sehingga jika tercabut ilmu dari hatinya,
maka dia akan didalam kesesatan selamanya.
2. Menjadikan sulitnya memperoleh rizqi dan disulitkan didalam berbagai urusannya.
3. Dia akan menjauh dari Allah SWT, dan Allah SWT akan menjauh darinya.
Sehingga Allah SWT tidak akan mempedulikan orang ini, baik didunia maupun diakhirat.
4. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuhnya. Seorang mukmin itu kekuatannya ada dihatinya.
Seorang yang pendosa, sekalipun terlihat kuat badannya, maka sebenarnya dia adalah
selemah-lemahnya manusia.
5. Memperpendek umur dan menghilangkan keberkahan umur. Demikian juga sebaliknya,
perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya.
6. 1 kemaksiatan akan mengundang kemaksiatan lainnya, sehingga akan semakin sulitlah
orang tersebut untuk lepas dari kemaksiatan.
7. Maksiat akan merusak akal, sehingga akan padam cahaya akal dari orang yang suka bermaksiat.
8. Terhalangnya do’a kebaikan dari malaikat untuk orang yang berbuat maksiat.
9. Kemaksiatan akan menghilangkan rasa malu, menjatuhkan kewibawaan dan kehormatan
seseorang, baik dihadapan manusia maupun Allah SWT.
10. Maksiat bisa menyebabkan tercabutnya iman dari dalam hati. Dan manusia yang
meninggal tanpa membawa Iman, maka dia pasti akan masuk neraka dan kekal didalamnya.
Demikianlah, kelihatannya 1 kejahatan dibalas 1 sayyiat, tetapi didalam 1 sayyiat itu
terkandung perkara yang luar biasa!
Keikhlasan didalam berbuat amal shalih adalah syarat wajib bagi diterimanya amal kita.
Bagaimana menggapai keikhlasan?
Manusia hanya bisa mencapai keikhlasan jika didalam hatinya sudah timbul rasa cinta dan
membutuhkan Allah SWT. Selama ini kita sebagai hamba menerima berbagai perintah/
kewajiban yang dibebankan kepada umat muslim, dan banyak diantara kita yang merasa
bahwa kewajiban itu merupakan suatu beban yang harus dilaksanakan.
Kita ambil saja contoh shalat. Kebanyakan dari kita, akan berpikir bahwa shalat adalah
kewajiban seorang hamba. Dan ketika datang waktu shalat, tidak jarang kita merasa berat
untuk segera melaksanakannya. Jika kita menjalankan shalat dengan terpaksa karena itu
adalah kewajiban sebagai orang islam, maka shalat kita hanya SAH, dan menggugurkan kewajiban, menyebabkan dirinya tidak berdosa, tetapi tidak berpahala shalatnya tersebut.
Jika shalat dilaksanakan dengan dasar rasa cinta dan merasa butuh kepada Allah SWT,
karena shalat adalah media berkomunikasi secara langsung dengan Allah SWT, maka
shalat akan menjadi hal yang kita rindukan. Jika sudah kita rindukan, maka tentu ikhlas
akan tumbuh didalam hati.
Bagaimana menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT? Tentunya dengan mengenalNYA
lebih dekat lagi. Perbanyaklah kajian-kajian untuk lebih mengenalNYA. Perbanyaklah dzikir,
dengan menyebut Asma’-Nya.
Kata Rasulullah SAW: “Man akhabba syai’an aktsaro min dzikrihi.”
Siapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan sering menyebutnya.
Jika setiap hari yang kita sebut Allah, maka Allah-lah cinta kita. Jika yang kita sebut setiap
hari adalah harta, maka hartalah cinta kita.
Kikislah kerasnya hati kita, kikislah dosa-dosa kita, dengan memperbanyak dzikir kepada
Allah SWT, sehingga cinta kepadaNYA bisa masuk kedalam hati kita, sehingga didalam
setiap perbuatan kita, hanya karena Allah dan hanya untuk Allah.
Semoga Bermanfaat
Much Nasrulloh Al Jufry
#PejuangIslam
#PengusahaSyariah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar