Senin, 26 Desember 2016

MISTERI DIBALIK USIA 40 TAHUN, SAMPAI ALLAH MENGISYARATKAN HAMBANYA SAAT DI USIA INI



MISTERI DIBALIK USIA 40 TAHUN, SAMPAI ALLAH MENGISYARATKAN HAMBANYA SAAT DI USIA INI 

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa Al-Qur’an membahas mengenai usia 40 tahun. 
Hal ini sebagai pertanda bahwa ada hal yang perlu diperhatikan dengan serius pada 
pembahasan usia 40 tahun ini.

Allah Ta’ala berfirman, “Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, 
ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau 
yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat 
berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan 
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan 
sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” 
(QS. Al-Ahqaf : 15)

Usia 40 tahun disebutkan dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia mencapai 
puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya.

 Ia benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia dewasa yang 
sebenar-benarnya. Do’a yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh 
mereka yang berusia 40 tahun atau lebih. 

Di dalamnya terkandung penjelasan yang jelas bahwa mereka telah menerima nikmat yang 
sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang 
harmonis, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala.
 
Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman: “Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu 
dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mau berfikir, dan 
(apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir : 37)
 
Para ulama salaf menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “umur panjang dalam masa 
yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut adalah ketika berusia 40 tahun.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa manusia
 apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah 
dengan bersungguh-sungguh. Apabila hal itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah 
memberikan janji-Nya dalam ayat setelahnya, yaitu kematangan. 

Usia 40 tahun adalah usia matang bagi kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan 
pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, 
lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak heran 
tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini. 

Bahkan Nabi kita tercinta, Muhammad SAW pun demikian. Sebagaimana yang disebutkan 
oleh Ibnu Abbas, “Diutusnya Rasulullah (yaitu) pada usia 40 tahun.” (HR. Al-Bukhari).
Nabi Muhammad SAW diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga 
dengan nabi-nabi yang lain, kecuali Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Mayoritas negara 
juga mensyaratkan bagi calon-calon yang akan menduduki jabatan-jabatan elit seperti 
ketua negara, harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat pun mengakui bahwa mantabnya 
prestasi seseorang tatkala orang tersebut telah berusia 40 tahun.

Mengapa umur 40 tahun begitu penting? Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia 
diklasifikasikan
menjadi 4 (empat) periode, yaitu: (1) Anak-anak (aulad); sejak lahir hingga akil baligh, 
(2) Pemuda (syabab); sejak akil baligh hingga 40 tahun, (3) Dewa(kuhul); 40 tahun 
hingga 60 tahun, (4) Tua (syuyukh); 60 tahun ke atas.

Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya 
dan beralih kepada masa dewasa sempurna. Kenyataan yang paling menarik pada 
usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agamanya yang semasa 
mudanya jauh sekali dengan agamanya. 

Baik dengan menjalankan kewajiban shalat lima waktunya dengan berjama’ah dan tepat 
waktu, memperbanyak sedekah, menutupi auratnya, atau dengan mengikuti kajian-kajian 
keagamaan.

 Seolah-olah di usia ini merupakan momentum kembalinya manusia kepada fitrahnya. Namun 
jika ada orang yang telah mencapai usia ini, akan tetapi tidak ada minat terhadap agamanya,
maka hal ini sebagai pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia.Wal iyaadzu billaah.
 
Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah SAW, 
“Seorang hamba muslim apabila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan 
hisabnya (perhitungan amalnya).” 

(HR. Ahmad)
 
Hadits ini menyebutkan bahwa usia 40 tahun merupakan titik awal seseorang memiliki 
komitmen terhadap penghambaan kepada Allah Ta’ala, sekaligus konsisten terhadap Islam, 
sehingga Allah Ta’ala pun akan meringankan hisabnya. Inilah keistimewaan orang yang 
mencapai usia 40 tahun. Akan tetapi, usia 40 tahun merupakan saat di mana orang harus 
berhati-hati juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk waktu senja.
 
Abdullah bin Abbas mengatakan, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal 
kebajikannya tidak mantab dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka 
hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”
 
Imam Asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. 
Jika ditanya, maka beliau menjawab, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah,
aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. 
Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam 
sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga.

 Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan 
sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan 
mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut 
syari’at lazim bagiku.”
 
Kematian Bisa Datang Kapan Saja
Satu perkara yang kita harus senantiasa kita sadari bahwa kematian bisa memanggil kita 
kapan saja tanpa tanda, tanpa alamat dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus 
menunggu usia 40 tahun untuk mulai memperbaiki diri, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita 
jika ternyata umur kita tidak panjang.
 
Maka dari itu, di sisa-sisa usia kita ini, marilah kita mulai berbenah diri, meneguhkan tujuan 
hidup, meningkatkan daya spiritual, memperbanyak bersyukur, menjaga makan dan tidur, 
serta menjaga keistiqamahan dan berusaha meningkatkan kualitas dalam beribadah.
Banyak manusia yang tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang bersifat sementara. 
Mengingati mati bukan berarti kita akan gagal di dunia ini. Akan tetapi dengan mengingati 
mati kita berharap menjadi insan yang berjaya di dunia dan di akhirat kelak. 

Janganlah menunggu hingga esok untuk membuat persediaan menghadapi kematian, karena 
mati boleh datang kapan saja.
Akhirnya, semoga kita bisa memaksimalkan sisa-sisa umur kita ini untuk memperbanyak 
amal shaleh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar