Rabu, 28 Desember 2016

Kisah Khalifah Umar menolak anaknya dicalonkan sebagai gubernur



Kisah Khalifah Umar menolak anaknya dicalonkan sebagai gubernur

       Tak sengaja saya mendengar kembali ceramah almarhum Zainuddin MZ dengan tema kisah Umar bin Khattab. Kisah Umar yang disampaikan Zainuddin sungguh menyentuh hati, apalagi jika dikaitkan dengan konteks saat ini. Tema besar yang saya tangkap adalah keteladanan Umar dalam memimpin saat menjadi khalifah. Jabatan khalifah adalah tertinggi saat itu. Kalau zaman sekarang adalah presiden.
       Banyak pelajaran dapat dipetik dari kisah Umar bin Khattab, salah satunya adalah tentang kesederhanaannya dalam memimpin. Meski punya kekuasaan tertinggi sebagai khalifah, Umar tidak aji mumpung. Tidak hanya ditanamkan dalam diri sendiri, tapi juga pada keluarga.
       Umar selalu mengingatkan agar anaknya tak mengambil untung dari jabatan ayahnya. Apalagi sampai memanfaatkan. Umar membatasi itu semua.
       Ada beberapa hal yang saya ingat dari kisah Umar. Seperti tentang marahnya Umar ketika ada sahabat mengusulkan agar Abdullah bin Umar diangkat sebagai Gubernur Kuffah. Abdullah adalah anak kandung Umar. Umar begitu marah dan sampai melotot matanya.

"Jangan macam-macam kau, cukup satu orang umar memegang jabatan ini, kalau berhasil kami keluarga Umar sudah merasakannya. Kalau gagal cukup kegagalan seorang Umar," begitu kata Umar.
       Sang sahabat awalnya tidak berniat memantik emosi Umar. Saat itu ada musyawarah. Umar mengaku bingung dengan persoalan di Kuffah. Umar mengaku sulit mencari orang yang tepat untuk menjadi Gubernur Kuffah. "Diangkat (gubernur) yang lemah rakyat ngeluh, diangkat yang keras rakyat juga ngeluh," demikian cerita Umar.
      Sahabat kemudian memberanikan diri mengusulkan nama Abdullah. Bukannya diterima malah ditolak mentah-mentah. Sejak didaulat sebagai pemimpin, Umar tidak ada niatan mewariskan jabatan khalifah ke anak-anaknya. "Kau jangan makan di atas punggungku, kau jangan menikmati fasilitas di atas keringatku."
      Inilah suri tauladan dari Umar. Meski sebagai khalifah, ia tidak lantas mengorbitkan anak untuk disiapkan menggantikan sebagai khalifah. Meski Abdullah anak yang saleh dan bertaqwa, bagi Umar lebih baik cari orang lain. "Anak lain yang saleh dan bertaqwa juga banyak," kata Umar.
      Tidak hanya soal jabatan, ketika anak Umar berbisnis juga ada pembatasan yang sangat ketat. Suatu hari Umar melihat ada unta yang gemuk di antara unta-unta kurus. Setelah diusut, ternyata unta tersebut milik anak Umar. Ketika itu juga, unta milik anaknya diminta dijual, keuntungannya diserahkan ke baitul mal. Padahal bisnis Abdullah adalah bisnis halal. Umar hanya tak ingin ada persepsi negatif saat anaknya berbisnis.
      Itulah Umar. Sederhana dan tegas dalam memimpin. Sampai Nabi Muhammad menjuluki Umar sebagai Al Faruq, artinya orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Saya berharap pemimpin sekarang bisa meniru Umar. Tidak aji mumpung, apalagi memanfaatkan kekuasaan dan mewariskan jabatan. Semoga tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar