Rabu, 28 Desember 2016

KISAH IBU DAN ANAK YANG DAHSYAT MELELEHKAN AIR MATA DI MASA TABI’IN…



KISAH IBU DAN ANAK YANG DAHSYAT MELELEHKAN AIR MATA DI MASA TABI’IN…


{Al-Akh Yahya Al-Windany}



Hari itu, di salah satu sudutnya Masjid Nabawi berkumpullah Abu Qudamah dan para sahabatnya. Di hati para sahabatnya, Abu Qudamah adalah orang yang sangat dikagumi. Itu karena Abu Qudamah adalah seorang mujahid. Berjihad dari satu front, ke medan-medan jihad lainnya. Seolah hidup beliau, beliau persembahkan untuk berjihad. Debu yang beterbangan, kilatan pedang, hempasan anak panah, derap kuda adalah hal yang sudah biasa bagi beliau. Pengalaman, tragedi, kisah, dan momen pun telah banyak beliau saksikan di setiap gelanggang perjuangan jihad. “Abu Qudamah, ceritakanlah pada kami kisah paling mengagumkan di hari-hari jihadmu”, tiba-tiba salah seorang sahabatnya meminta. “Ya”, jawab Abu Qudamah.

Beberapa tahun lalu. Aku singgah di kota Recca. Aku ingin membeli onta untuk membawa persenjataanku. Saat aku sedang bersantai di penginapan, keheningan pecah oleh suara ketukan. Ku buka ternyata seorang perempuan. “Engkaukah Abu Qudamah?” tanyanya.
“Engkaukah yang menghasung umat manusia untuk berjihad?” pertanyaannya yang kedua.

“Sungguh, Allah telah menganugerahiku rambut yang tak dimiliki wanita lain. Kini aku telah memotongnya. Aku kepang agar bisa menjadi tali kekang kuda. Aku pun telah menutupinya dengan debu agar tak terlihat. Aku berharap sekali agar engkau membawanya. Engkau gunakan saat menggempur musuh, saat jiwa kepahlawananmu merabung. Engkau gunakan bersamaan saat kau menghunus pedang, saat kau melepaskan anak panah, dan saat tombak kau genggam erat. Kalau pun engkau tak membutuhkan, ku mohon berikanlah pada mujahid yang lain. Aku berharap agar sebagian diriku ikut di medan perang, menyatu dengan debu-debu fi sabilillah.”

“Aku adalah seorang janda. Suamiku dan karib kerabatku, semuanya telah mati syahid fi sabilillah. Kalau pun syari’at mengizinkan aku berperang, aku akan memenuhi seruannya”, ungkapnya sembari menyerahkan kepangan rambutnya.

Aku hanya diam membisu. Mulutku kelu walau tuk mengucapkan “iya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar