UMAR BIN KHATHAB R.A BICARA SOAL Al-MAIDAH 51
Ini Pendapat UMAR BIN KHATHAB R.A mengenai Al-MAIDAH 51.
Kurang lebih sama dengan pendapat Ahli Tafsir yang tersohor sedunia yaitu Ibnu
Katsir.
Anda pilih pendapat siapa? Pendapat Umar? atau si Anu
(sensor)?
Selain teman setia makna lain dari awliya’ atau wali adalah
pemimpin atau yang diberi tanggung jawab dalam urusan penting seperti dalam
kisah Umar berikut.
Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab.
Umar bin Khathab pernah memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan
pengeluaran dan pemasukan pemerintahan dilakukan oleh satu orang. Abu Musa
memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya
untuk mengerjakan tugas tersebut. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil
pekerjaannya.
Umar berkata, “Hasil kerja orang ini bagus.”
Umar melanjutkan, “Bisakah orang ini didatangkan dari Syam
untuk membacakan laporan-laporan di depan kami di masjid?”
Abu Musa menjawab, “Ia tidak bisa masuk masjid.”
Umar bertanya, “Kenapa? Apa karena ia junub?”
Abu Musa menjawab, “Bukan. Ia tidak bisa karena ia seorang
Nashrani.”
Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan
berkata, “Pecat dia.”
Umar lalu membacakan ayat (yang artinya), “Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang
lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang lalim.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad
dan matan darinya. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa sanad hadits ini
hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 417-418)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar